21/04/09

Bercinta dengan perawan


Perkenalanku dengan Yussi bermula dari chatroom. Waktu itu tahun 2001 dan
aku masih duduk di tingkat 3 sebuah PTS di Medan dan usiaku masih 20
tahun. Sedangkan Yussi sudah berumur 22 tahun dan duduk di bangku kuliah
tingkat akhir universitas swasta Jakarta Jurusan Teknik. Kala itu Yussi
masih bekerja di perusahaan telekomunikasi swasta sebagai seorang
programer.

Perkenalanku dengan Yussi semakin akrab walaupun kami tidak pernah
ketemuan atau copy darat (maklumlah dia di Jakarta sedangkan aku di
Medan). Setelah persahabatan kami berjalan 2 tahun akhirnya kami
mempunyai kesempatan untuk ber-copy darat. Waktu itu bulan Desember 2003
aku memperoleh kesempatan untuk berlibur di Jakarta.

Singkat cerita akupun sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
pada tgl 26 Desember 2003 dan dengan berbekal beberapa lembar foto
kirimannya, aku sore harinya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk
menemuinya.

Pertama sekali kumelihatnya, aku sungguh terpana. Bagiku, Yussi lebih
cantik aslinya ketimbang di fotonya. Ditunjang lagi oleh penampilannya
yang semakin dewasa yang disesuaikan dengan profesinya kini sebagai
programer software di PT JS di kawasan Gatot Subroto Jaksel. Hal ini
membuat aku semakin tertarik dengannya dan membuat birahiku naik secara
perlahan-lahan.

Setelah bertemu, kami berdua mengelilingi Taman Anggrek hingga malam dan
dinner disana. Setelah dinner kami berkesempatan mengelilingi Jakarta
dan akhirnya kami pulang dan kuantar dia sampai ke rumahnya di kawasan
Duri Kepa Jakarta Barat.

Pertemuan itu membawa kenangan tersendiri bagiku dan oleh sebab itu aku
kembali mengajak Yussi keluar jalan-jalan keesokan harinya yang
bertepatan dengan malam minggu.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku menjemput Yussi setelah itu kami
pergi makan pagi bersama dan mengelilingi Jakarta beserta mallnya hingga
jam 10 malam. Sebenarnya aku masih sangat ingin bersamanya hingga larut
malam, namun Yussi menolak karena katanya tidak ada yang menjaga rumah,
sebab Papa, Mama, Koko, Kakak ipar dan Dedenya sedang ke Bogor
menghadiri kondangan familinya.

Sebenarnya aku kecewa juga mendengar penolakannya itu, tapi kekecewaanku
ternyata tidak lama. Terbukti Yussi waktu itu langsung mengajakku untuk
menginap di rumahnya, karena dia tidak berani tidur sendirian. Akupun
tidak mengiyakan secara langsung penawarannya itu, aku berpikir beberapa
menit. Setelah berpikir beberapa menit aku pun mengiyakan tawaran Yussi
dan tampaknya ia sangat senang sekali. Akhirnya kami sampai di rumahnya
pukul 10 lewat 30 malam.

Segera setelah turun dari mobil, Yussi membuka pintu pagar dan pintu
rumah. Lalu akupun masuk ke dalam rumahnya yang lumayan besar itu dan
menempelkan pantatku pada kursi sofa di ruang tamunya. Seketika itu
pikiranku melayang-layang membayangkan seandainya aku dapat menyalurkan
hasratku pada Yussi. Terus terang saja, selama ini aku selalu horny jika
mendengar suara dari Yussi dan aku pun selalu beronani membayangkan
sedang menyetubuhinya. Bahkan tidak jarang pada saat kutelepon dia, aku
sedang naked dan beronani sambil bertelepon dengan dia dan Yussi pun
tahu semuanya itu.

Setelah mengunci pintu rumahnya, Yussi permisi padaku untuk mandi dan
aku pun mengiyakannya. Mendengar Yussi mau mandi pikiranku bertambah
kotor setelah sebelumnya aku membayangkan bisa menyetubuhinya. Lalu
dengan langkah berjingkat-jingkat kuikuti langkah Yussi yang berjalan ke
arah kamar mandi di ruang makan hingga aku melihat Yussi masuk ke dalam
kamar mandi dan mengunci pintunya.

Akupun segera memutar otakku mencari celah agar dapat mengintip Yussi.
Namun belum sempat aku mendapatkan cara mengintip yang pas, tiba-tiba
Yussi keluar dari kamar mandi dengan naked dan berteriak karena ada
kecoa. Aku yang melihat Yussi keluar dengan naked hanya bisa terpaku dan
diam. Mataku langsung tertuju pada dua daging kenyal yang bergantung di
dadanya. Sungguh indah sekali buah dada Yussi yang berukuran 34 A
(kuketahui ukurannya, karena aku pernah menanyakan ukuran bra nya lewat
SMS dan dia pun memberitahu aku) dengan putingnya yang berwarna
kecoklatan. Ingin rasanya lidahku langsung menyeruput wilayah dadanya
itu. Pandangan mataku kini tertuju pada lubang vaginanya yang ditumbuhi
oleh ilalang asmara walaupun tidak begitu lebat. Penisku pun langsung
bangkit dan berdiri tegak. Waktu itu yang hanya ada di pikiranku
hanyalah bagaimana caraku untuk meniduri Yussi. Tanpa pikir panjang
akupun mendekati Yussi dan kurangkul tubuhnya lalu kutempelkan bibirku
pada bibirnya yang lembut mereka itu. Yussi tidak memberikan perlawanan
bahkan ia pun mengulum bibirku.

"Ah.." dia mendesah.

Aku pun semakin berani setelah mendengar desahannya itu. Lidahku keluar
masuk ke rongga mulutnya yang mungil dan tanganku pun bergerilya
meremas-remas dan terkadang meraba-raba onggokan daging kenyal di
dadanya sambil memilin-milin putingnya yang sudah mulai mengeras.
Sementara itu ia juga mulai mencoba menarik resleting celanaku dan tanpa
kesulitan dia berhasil menurunkan celanaku dan menarik kaosku serta
melemparnya ke lantai kamar mandi. Saat itu, ia sedikit terkejut, ketika
tanpa sengaja tangannya menyentuh penisku yang masih dilapisi oleh
celdamku.

"Oh.. Very big buanget tongkolmu, Dave"

Aku hanya menanggapinya dengan senyum dan tanganku masih bekerja
memilin-milin puting susunya. Ciumanku mulai kuarahkan ke lehernya dan
terus turun ke bawah dan berhenti di bagian putingnya. Di sini aku
permainkan putingnya yang indah itu dengan lidahku. Terkadang kuemut,
kuhisap dan kugigit lembut putingnya itu, sehingga membuat Yussi tak
kuasa untuk menahan hawa nafsunya yang sudah hampir meledak. Tampaknya
ia juga sudah tidak sabar untuk melihat dan merasakan penisku karena
Yussi sedang berusaha menarik turun sempakku. Dan kemudian tanpa
halangan yang berarti Yussi akhirnya berhasil menurunkan celdamku.

"Jangan disini Yos, kita cari tempat yang enak, ok? Gimana kalau kita
maen di kamar kamu Yos?"

"Oh iya.. Enakan di kamar gue. Kita bisa ngent*t sampe puas".
Lalu kugendong tubuhnya ke loteng dan kubawa ke dalam kamar tidurnya dan
selanjutnya kurebahkan tubuh bugilnya diatas ranjang alga yang empuk.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera kuhisap puting susunya yang sudah
semakin mengeras lagi.

"Ah.. Dave," pekiknya.

"Yos.. Toket loe indah buanget. Gue suka buanget sama toket loe,"
celetekku dengan penuh nafsu.

"Terus Dave.. Oh.. Geli.." desahnya.

Mendengar desahannya aku semakin bernafsu. Lambat laun ciumanku merambat
turun ke pusarnya lalu ke gundukan di selangkangannya. Kemudian
kumainkan clitorisnya dengan lidahku dan aku terus memasukkan ujung
lidahku ke dalam lubang vaginanya yang harum itu. Kemudian dia
mengangkat pinggulnya dan berseru,

"Oh.. My god.. Is very great.. Oh.. God.."

Sementara aku masih mempermainkan wilayah vaginanya dengan lidahku,
Yussi semakin kencang menggoyang-goyangkan pinggulnya, kemudian dengan
tiba-tiba dia berteriak,

"Dave.. aku.. ke.. lu.. aarr.." dan seketika itu tubuh Yussi mengejang
dan matanya terpejam.
Sementara itu di gua keramatnya terlihat cairan kewanitaannya membanjiri
vaginanya. Kuhisap cairannya itu dan kurasakan manis bercampur asin
dengan aroma yang wangi dan hangat. Kuhisap cairannya dengan rakus
sampai habis dan tubuhku kembali merambat ke atas menghisap putingnya
kembali yang tampak indah bagiku. Rasanya bibirku masih belum puas
menyusui putingnya itu.

Tak lama kemudian kulihat Yussi kembali menggeliat-geliat dan
mendesah-desah. Ia tampak terangsang kembali dan memintaku untuk segera
memasukkan penisku yang berukuran 16 cm dengan diameter 3 cm ke dalam
gua keramatnya yang sudah basah sekali.

"Ayo.. Dave.. Masukkan tongkolmu ke memiawku. Gue sudah enggak tahan
lagi," pintanya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi kuarahkan penisku ke dalam lubang
vaginanya dan secara perlahan-lahan namun pasti penisku pun mulai
menyeruak masuk ke dalam lubang vaginanya yang masih sempit (maklumlah
Yussi masih virgin) dan akhirnya penisku berhasil masuk 3/4 ke dalam
lubang vaginanya.

"Aduh.. Pelan-pelan ya, please," erangnya sedikit tertahan.
Kembali kutekan penisku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan
sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan semua penisku ke dalam lubang
vaginanya dan menyentuh dasar vaginanya.

"Oh.. Nikmat buanget.." katanya yang disertai dengan desahan halus.
Aku semakin bernafsu untuk menggenjotnya setelah mendengar desahan dan
erangannya. Semakin dia mendesah, aku semakin mempercepat genjotanku di
lubang vaginanya.

"Oh.. Dave.. ak.. uu.. suudahh.. ma.. uu.. kke.. luarr.. rr.. laggii.."
"Tahan Yos.. aku juga.. u.. da.. mau.. ke.. luuaarr, keluarkan di..
mana.. Yos?" tanyaku.

"Di.. Da.."

Belum sempat ia menjawab, aku sudah tak bisa menahannya lagi, sehingga
akibatnya,

Crot.. Crot.. Crot.. Crot..!
Beberapa kali penisku menembakkan maniku yang banyak ke dalam lubang
vaginanya dan saat itu juga aku merasakan cairan hangat Yussi beserta
aliran darah perawannya menyelimuti batang penisku yang masih tegak di
dalam vaginanya.

"Terima kasih Yos.. Kamu sudah memberikan aku kenikmatan malam ini.."
ujarku sambil mengecup lembut bibirnya dan menarik keluar penisku.

"Aku juga ingin terima kasih ke kamu, karena telah memuaskan nafsuku
untuk melakukan hubungan sex denganmu yang selama ini kupendam dalam
anganku," katanya tanpa malu-malu dengan mata yang sayu.

"Ayo.. Kita mandi berdua," ajaknya sambil menarik tanganku.

Dan di kamar mandi itu, batang penisku kembali bereaksi ketika Yussi
mengelus-elusnya. Tanpa malu-malu aku langsung menarik pinggang Yussi
dan menyuruhnya menungging ke arahku. Aku pun secara perlahan lahan
memasukkan penisku yang sudah menegang ke sela-sela pantatnya yang tidak
begitu besar. Sejenak, Yussi tersentak, namun hal itu hanya berlangsung
sebentar saja, karena Yussi kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya
ketika dirasakan penisku sudah masuk semuanya ke dalam lubangnya.

"Ah.. Dave.. a.. kk.. uu.. ke.. ll.. uu.. aa.. rr.. l.. aa.. g.. ii.."
erangnya dengan lembut.

"A.. k.. u.. juu.. ggaa.." kataku sambil menyemprotkan maniku ke lubang
vaginanya kembali.

Setelah itu kami melanjutkan acara mandi kembali dan setelah mandi,
sebelum tidur, aku mengent*tnya sekali lagi. Keesokan paginya pada saat
aku bangun jam 7 pagi kembali kugenjot dia dan malam harinya kami
kembali ber-ML ria..
Sungguh liburan yang berkesan dengan teman chatting. Terima kasih Yussi
atas virginmu.

1 komentar: